Lagi Nubie dalam bidang photografi, harap maklum kalo hasilnya tidak terlihat profesional..tapi lumayan dapat model gratis...ponakan guwe soalnya...enjoy it!
Thursday, December 13, 2012
Wednesday, December 12, 2012
Mengenang Lampau di Ritual Adat Ra Manandung Melapi 3
![]() |
| Ritual tari penyambutan tamu ditepi sungai malapi |
Suku dayak taman melapi merupakan salah satu dari sekian ribu sub suku dayak yang tersebar diseluruh pulau kalimantan. Meskipun pada umumnya memiliki kemiripan adat istiadat namun pada dasarnya pada setiap sub suku pasti memiliki keunikan yang menjadi pembeda dengan sub suku lainnya. Tak terkecuali pada dayak taman kapuas hulu ini memiliki salah satu prosesi adat yang telah berlangsung turun temurun dari jaman nenek moyang hingga kini, dan merupakan salah satu sub suku dayak kapuas hulu yang sangat memegang teguh tradisi adat istiadat dan budayanya.
Salah satu tradisi yang masih dilaksanakan pada saat tertentu adalah tradisi mandung, yang pada masa silam merupakan suatu ritual adat yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada roh-roh nenek moyang yang telah memberkati hasil panen, dimana pada masa itu suku dayak masih menganut kepercayaan kepada para roh-roh leluhur dan sang Pencipta alam. Biasanya yang mengadakan acara ini adalah dari kaum bangsawan yang memiliki budak-budak, dan pada saat itu budak-budak inilah yang akan dikorbankan atau ditombak, namun setelah suku dayak taman mengenal Tuhan maka korban manusia diganti dengan hewan seperti sapi atau kambing tapi biasanya lebih sering mengorbankan sapi.
![]() |
| Tuan Rumah wajib memberikan pelayanan prima |
![]() |
| Sebelum naik ke rumah betang tradisional tamu wajib mantap (memotong) kayu menggunakan mandau |
Prosesi adat biasanya secara efektif berlangsung selama lima hari, namun memerlukan persiapan bisa bertahun-tahun tergantung kesiapan mental dan materi, kenapa demikian? karena beberapa keluarga yang sepakat untuk mengadakan hajatan ini harus mempersiapkan biaya yang tidak sedikit karena harus mengundang semua kampung yang masuk didalam sub suku taman ini, artinya ada ribuan orang yang harus diundang dan diberi makan dengan pelayanan terbaik. Pelayanan terbaik adalah keharusan dalam prosesi ini, karena mungkin pelanggaran atau ketidakpuasan dan ketersinggungan tamu bisa berujung pada sanksi moral dan mereka berhak untuk membalas kepada yang bersangkutan apabila suatu saat mereka ada pada posisi sebagai tamu.
![]() |
| menombak hewan korban merupakan puncak ritual adat |
Namun meskipun demikian, karena pada dasarnya masyarakat dayak adalah masyarajat komunal yang terbiasa bergotong-royong mengerjakan segala sesuatu, sang empu hajatan tidak perlu kuatir karena semua keluarga yang berdiam dirumah panjang akan saling membantu dalam menjamu dan memberi makan tamu-tamu yang datang. Demikian sekilas tentang ritual adat dayak taman kapuas hulu.
Thursday, November 29, 2012
Masa Depan Ribuan Sungai
Betapa kayanya alam kapuas hulu, ribuan sungai yang bermuara pada satu sungai besar yaitu sungai kapuas menjadi keunikan tersendiri. Namun sayang, penduduk seringkali menganggap sungai kapuas sebagai tong sampah raksasa, segala jenis sampah yang paling mengkuatirkan adalah sampah-sampah plastik yang bertebaran dan mencemari keindahan dan kebersihan sungai...mungkinkah dimasa depan, generasi kita masih dapat menikmati matahari terbenam dengan cahaya lembutnya memantul diriak air sungai...
Wednesday, November 28, 2012
Menakar Empati ketimuran kita
Seorang gadis remaja yang mengalami kecelakaan meninggal karena terlambat ditangani dan sempat ditolak rumah sakit.
seorang bayi yang sakit meninggal karena ditolak rumah sakit..bla..bla...
Aduh,...ada apa dengan kita ini?
Manusia indonesia yang katanya ramah, santun, beragama, berakhlak mulia tapi akhirnya begitu tumpul rasa empati dan kemanusiaan. Pernahkah kita berpikir, andai hal itu terjadi pada sanak saudara kita? atau bahkan kita sendiri yang mengalaminya..?
Kenapa bisa korban yang sekarat kita biarkan saja tanpa ada tindakan apapun...? kenapa gak diambil tindakan medis penyelamatan dulu, baru bicara administrasi..kl korban gak mampu..disitulah peran pemerintah...FUCK!
seorang bayi yang sakit meninggal karena ditolak rumah sakit..bla..bla...
Aduh,...ada apa dengan kita ini?
Manusia indonesia yang katanya ramah, santun, beragama, berakhlak mulia tapi akhirnya begitu tumpul rasa empati dan kemanusiaan. Pernahkah kita berpikir, andai hal itu terjadi pada sanak saudara kita? atau bahkan kita sendiri yang mengalaminya..?
Kenapa bisa korban yang sekarat kita biarkan saja tanpa ada tindakan apapun...? kenapa gak diambil tindakan medis penyelamatan dulu, baru bicara administrasi..kl korban gak mampu..disitulah peran pemerintah...FUCK!
Wednesday, November 21, 2012
Time Stopped in Teluk Aur
Kapuas River, Time Of Time
![]() |
| Shades of Kapuas River |
![]() |
| Riverside Settlements |
![]() |
| Houseboat |
![]() |
| At the center of Kapuas River |
Monday, October 29, 2012
Mampir di Kota Tua Jakarta
Ke jakarta, jangan lupa ke kota tua....
Dari sekian banyak kunjungan ke jakarta dalam rangka tugas, kadang tidak pernah sempat untuk menelusuri jauh lika-liku jakarta dengan segala destinasi wisatanya. Salah satu tujuan wisata yang kerap ku dengar adalah keberadaan sebuah tempat bernama kota, kenapa dikasih nama kota ?
Kota
Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia),
adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta. Wilayah khusus ini memiliki luas
1,3 kilometer persegi melintasi jakarta Utara dan Jakarta Barat
(Pinangsia, Taman Sari dan Roa malaka).
Dijuluki
"Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh
pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia
karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.
Tahun
1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran kemudian dinamai Jayakarta Kota ini hanya seluas 15 hektar dan memiliki tata
kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan
Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa
Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini
Lapangan Fatahillah.
Penduduk
Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi",
terdiri dari etnis Kreol yang
merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.
Tahun
1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas
Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng
(Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok
yang dipisahkan oleh kanal. Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia
kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis
di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan
setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota
sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan
Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama
menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.
Tahun
1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota
Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi
sejarah arsitektur kota — atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana.
Meski
dekrit Gubernur dikeluarkan, Kota Tua tetap terabaikan. Banyak warga yang
menyambut hangat dekrit ini, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk
melindungi warisan era kolonial Belanda
Menjelajahi kota tua, saya gak kesulitan membayangkan kemegahan kota ini dimasa lalu, terutama karena kondisinya yang seperti tidak terawat dengan banyak penjual kaki lima bertebaran disana-sini sambil awas terhadap bapak-bapak Satpol PP yang sewaktu-waktu akan menyuruh mereka memindahkan lapak mereka ke tempat yan di ijinkan. Banyak bangunan bernilai historis dengan arsitektur megah dimasa lalu telah hancur dan meninggalkan sisa-sisa yang telah retak. Namun memandang beberapa bangunan yang masih utuh tersisa dan difungsikan untuk kantor-kantor, maka imajinasi liarku membayangkan para tuan besar, meener belanda yang hilir mudik dengan jas putihnya menghisap cangklong, berkumis lebat serta membawa tongkat..berjalan dengan angkuh merenda cita-cita dan ambisi sebagai penguasa tunggal tanah air nusantara yang begitu kaya dan melimpah dengan kekayaan alamnya yang luar biasa, sebuah tempat yang begitu luar biasa dibumi ini yang kini bahkan tengah dilacurkan oleh bangsanya sendiri. Barangkali, nyonya dan nona-noda berambut pirang dan bermata biru sedang mengiringi para suami mereka dengan langkah yang anggun, bergosip sesama mereka, bergaun mewah berenda seperti film-film klasik yang biasa kusaksikan dilayar kaca.
Demikianlah, sesaat dikota tua bernostalgia akan masa lalu sambil menyayangkan kenapa kita tidak mampu menjaga keindahan dan kemegahan situs kota tua ini, akhir kata...selamat menikmati perjalanan saya dan jangan lupa untuk mengunjungi kota tua..
Subscribe to:
Posts (Atom)


















