Monday, November 29, 2010

Pembinaan SKPD Tahun 2010

Tahun ini pembinaan penatausahaan keuangan SKPD lebih difokuskan pada persiapan didalam menyusun laporan keuangan. Mengingat hasil pemeriksaan BPK tahun lalu tentang kualitas laporan keuangan yang masih belum memadai, mudah-mudahan dengan adanya pembinaan tahun ini kedepannya akan lebih baik lagi melalui pelaksanaan sistem akuntansi mulai dari jurnal, buku besar sampai menghasilkan laporan keuangan SKPD yang selanjutnya akan dikonsolidasikan menjadi laporan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu.


Sebagaimana tahun lalu pembinaan dilakukan pada kecamatan-kecamatan yang berada pada jalur lintas selatan dan lintas utara. Lintas selatan dilakukan dari tanggal 21 sampai 22 di sejiram, tanggal 23 sampai 24 di tepuai kemudian dilanjutkan dikecamatan putussibau utara dari tanggal 29 sampai tanggal 30. 

Untuk jalur lintas utara akan difokuskan di kecamatan batang lupar, rombongan berangkat tanggal 1 dan kegiatan efektif dari tanggal 2 sampai tanggal 3 desember. Wow..perjalanan yang lumayan melelahkan tetapi terbayar oleh pemandangan indah sepanjang perjalanan karena rombongan menggunakan sepeda motor, satu-satunya sarana transportasi yang memudahkan dalam kondisi jalan yang rusak dan berlubang.


Friday, November 26, 2010

Mengenang Peristiwa Mandor Kalimantan Barat


Kalimantan Barat atau west borneo pernah mengalami masa-masa kelam saat pendudukan jepang melalui serangkaian peristiwa berdarah yang melenyapkan satu generasi intelektual, tokoh-tokoh penting dan kharismatik sampai orang-orang biasa. Tentara pendudukan Jepang melakukan pembantaian masal di Kalbar terhadap kalangan feodal lokal, cerdik pandai, ambtenar, politisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga rakyat jelata, dari berbagai etnik, suku maupun agama. Peristiwa yang dicatat sebagai sejarah paling kelam dan tragis bagi masyarakat Kalimantan barat meninggalkan kenangan dan luka yang mendalam bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan karena orang-orang yang mereka kasihi direnggut secara paksa dengan cara yang dengan tepat melukiskan betapa fasisnya penjajah jepang waktu itu. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1943-1944 dikenal sebagai peristiwa mandor karena lokasinya tepat terletak didaerah mandor yang sekarang masuk dalam  wilayah kabupaten landak. Jumlah korban yang sebenarnya tidak pernah terungkap sampai saat ini, namun diperkirakan korban peristiwa tersebut sebanyak 21.037 jiwa dengan target sebanyak 50.000 jiiwa, berdasarkan pengakuan Kiyotada Takahashi seorang turis Jepang yang berkunjung ke Kalbar 2-122 Maret 1977. Ia merupakan mantan opsir Syuutizityo Minseibu yang pernah tinggal di Jalan Zainuddin Pontianak yang saat berkunjung tersebut Takahashi berprofesi sebagai Presiden Direktur perusahaan Marutaka House Kogyo Co Ltd.
Setidaknya ada 48 nama korban yang dimuat Borneo Sinbun hari itu, lengkap dengan keterangan umur, suku, jabatan atau pekerjaan. Mereka adalah JE Pattiasina, Syarif Muhammad Alkadri, Pangeran Adipati, Pangeran Agung, Ng Nyiap Soen, Lumban Pea, dr Rubini, Kei Liang Kie, Ng Nyiap Kan, Panangian Harahap, Noto Soedjono, FJ Loway Paath, CW Octavianus Lucas, Ong Tjoe Kie, Oeray Alioeddin, Gusti Saoenan, Mohammad Ibrahim Tsafioeddin, Sawon Wongso Atmodjo, Abdul Samad, dr Soenaryo Martowardoyo, M Yatim, Rd Mas Soediyono, Nasaruddin, Soedarmadi, Tamboenan, Thji Boen Khe, Nasroen St Pangeran, E Londok Kawengian, WFM Tewu, Wagimin bin Wonsosemito, Ng Loeng Khoi, Theng Swa Teng, dr RM Ahmad Diponegoro, dr Ismail, Ahmad Maidin, Amaliah Rubini (istri dr Rubini), Nurlela Panangian Harahap (istri Panangian), Tengkoe Idris, Goesti Mesir, Syarif Saleh, Gusti A Hamid, Ade M Arief, Goesti M Kelip, Goesti Djafar, Rd Abdulbahri Danoeperdana, M Taoefik, AFP Lantang, dan Rd Nalaprana. (sumber : Catatan Syafaruddin Usman MHD dalam Harian Equator). Nama-nama tersebut hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan korban yang mati secara tragis karena diculik dari rumah mereka kemudian dibantai oleh tentara jepang dilokasi yang sekarang ditandai dengan dibangun sebuah monument yang dihiasi relief-relief untuk menggambarkan bagaimana proses penculikan sampai pembantaian terjadi. Banyaknya korban dan kekejaman tiada tara dikemudian hari dapat disaksikan melalui tulang-belulang yang berserakan dilokasi tersebut, tengkorak-tengkorak kepala yang terlepas dari raganya dapat melukiskan bagaimana nyawa-nyawa mereka berakhir diujung samurai. Bahkan saking banyaknya korban yang harus dieksekusi, dilokasi tersebut beberapa saat yang lalu sering ditemukan patahan-patahan samurai. Pada dasarnya bahwa tentara pendudukan jepang sengaja melakukan tindakan-tindakan biadap tersebut guna memberangus dan mematahkan semangat dan perlawanan masyarakat Kalimantan barat terhadap jepang. Penangkapan dilakukan dalam beberapa tahap, Pada awal pendudukan Jepang, tulis Iseki, keadaan di Kota Pontianak dan masyarakatnya sangat damai. Tidak ada gerakan anti-Jepang. Tapi pada Juli 1943, terbongkar komplotan melawan Jepang di Banjarmasin. Otaknya adalah BJ Haga bekas Gubernur Belanda di Borneo. Tentara Jepang tak memberi ampun. Haga dan 800 orang yang dituduh terlibat gerakan itu dihabisi oleh Administrator Kaigun, Iwao Sasuga. Rupanya, berdasarkan informasi dari para informan Jepang, kelompok Banjarmasin itu telah menjalin hubungan dengan para aktifis di Pontianak. Tentu informasi dari Amir, seorang informan di Tokkei ini, membuat pihak Jepang marah. Menurut amir, Manajer Asahikan sebuah bioskop di Pontianak Ahmad Maidin, malah telah menyebarkan berita fitnah yang meresahkan. Misalnya, kota Surabaya dibom dan pasukan Jepang kalah perang terus. Kabar itu tersebar pada Juli-Agustus 1943.
Pada akhir Januari 1944 terjadi lagi penangkapan tahap II. Sekitar 120 orang yang ditangkap, antara lain tokoh-tokoh Singkawang. Sedangkan penangkapan tahap III terjadi pada Februari 1944, menimpa para ambtnaar dan kaum intelektual pada zamannya. Pada 28 Juni 1944 itulah saat yang menyeramkan warga Pontianak. Waktu itu, demikian Iseki dalam bukunya, dilakukan pengadilan kilat terhadap 48 tokoh. Hari itu pula, para perintis kemerdekaan itu divonis hukuman mati dan langsung ditembak saat itu. Tawanan yang lain, yang berjumlah sedikitnya 1.000 orang papar Iseki, dipancung dengan samurai tanpa diadili. (sumber : Catatan Syafaruddin Usman MHD dalam Harian Equator). Peristiwa tersebut mengingatkanku pada sebuah galian lobang besar dikampung tempat aku dibesarkan, saat kecil aku sering bermain-main dilokasi tersebut. Menurut cerita orang tua, bahwa lobang tersebut digali pada jaman jepang yang pastinya kita sudah menduga apa maksud dari penggalian lobang tersebut. Tapi syukurlah niat keji tersebut tidak kesampaian karena terjadi peristiwa bom nuklir hirosima Nagasaki yang merupakan bayaran setimpal atas perbuatan kejam penjajah jepang waktu itu. Kalau dipikir-pikir, seharusnya kita berterima kasih kepada amerika serikat, coba kalau mereka tidak menjatuhkan bom nuklir di jepang, mungkin akan lebih banyak lagi korban jatuh dan niat jepang untuk membabat habis generasi Kalimantan yang berumur dua belas tahun keatas akan terwujud.
Bagaimana mencekam dan menakutkan situasi ketika peristiwa tersebut terjadi dapat kita gambarkan melalui berbagai kesaksian baik dari korban yang lolos maupun dari keluarga korban atau para saksi mata dan pelaku sejarah.
Tajima (Prajurit Kompetai Jepang)

"saya angkat bedil serta bayonet dengan tangen yang gemetar dan dengan tuntunan sumpah serapah sang letnan yang hampir histeris. saya jalan perlahan lahan ke pria cina yang berdiri dengan muka ketakutan di samping lubang mayat,liang kubur yang ia bantu ketika menggalinya. Dalam hati saya meminta maaf kepadanya,dengan mata dipejamkan dan sumpah serapah letnan di kuping saya,saya mnancapkan bayonet tersebut ke tubuh pria tersebut yang menjadi tegan itu. Waktu saya membuka mata saya,saya melihat pria itu jatuh perlahan ke liang kuburnya. Pembunuh kriminal,begitu saya memanggil diri saya"

Takahashi
 “Saya ingat dan masih punya catatan tentang jumlah korban yang tertangkap ataupun terbunuh secara masal pada sekitar bulan Juni 1944, yaitu 21.037 orang. Tapi saya kurang mengetahui dengan pasti apakah semua tawanan itu dibunuh di daerah Mandor. Akan tetapi tentang jumlah korban tersebut pernah tercatat dalam sebuah dokumen perang yang tersimpan di museum di Jepang,” ucap Kiyotada Takahashi.
Lim Bak Djue atau Djuanda Rimbawidjaja.
“Dari orang Tionghoa yang menjadi korban Jepang, keluarga kami paling banyak,” ujarnya. Tak tanggung-tanggung, 8 anggota keluarga besarnya dibantai tentara Jepang masa itu.
Sultan Syarif Abubakar
Sejak awal April, pemerintah Jepang di Pontianak mendengar isu akan adanya pemberontakan. Suasana kota Pontianak pun menjadi tegang. Rupanya ada yang memanfaatkan situasi itu untuk memancing di air keruh, tiba-tiba Jepang mencurigai keluarga Sultan Muhammad Alkadrie yang akan menjadi otak pemberontakan.
Hari itu ribuan balatentara Jepang mengadakan operasi kilat penangkapan orang-orang yang dicurigai. Dengan membabi buta setiap orang yang dianggap mempunyai intelektualitas –terutama para ulama—ditangkapi. Sultan Muhammad sendiri bersama para punggawanya “dijemput” paksa balatentara Jepang dari istananya.
Dengan disaksikan istri, anak cucu, punggawa dan sebagian rakyatnya, raja yang ahli ibadah itu dirantai dan kepalanya ditutupi kain hitam, sebelum dibawa pergi. Yang mengharukan, sebelum dibawa pergi Sultan Muhammad Alkadrie memutar-mutar tasbih di jari telunjuknya seraya bertakbir.
Rombongan pembesar kerajaan lalu dibawa ke depan markas Jepang di sisi lain sungai Kapuas (sekarang menjadi markas Korem). Di tempat itu satu persatu kepala mereka dipenggal, kemudian dimasukkan ke truk dan dibawa pergi entah kemana. Beruntung, tujuh bulan kemudian –setelah Jepang sudah angkat kaki-- jasad Sultan Muhammad Alkadrie berhasil ditemukan di Krekot. Penemuan itu sendiri berkat laporan salah seorang penggali lubang makam yang berhasil lolos dari pembantaian serdadu Jepang. 
Dan sungguh menakjubkan, meski sudah tujuh bulan terkubur, saat digali kembali, jasad sultan yang shalih itu masih utuh seperti orang yang baru saja meninggal dunia. Bahkan, menurut kesaksian para penggali, pakaian dan tasbihnya pun masih tampak bagus. Jasad Sultan Muhammad Alkadrie kemudian dimakamkan kembali di makam para sultan Pontianak di Batulayang ( Sumber : Blog aku menulis maka aku ada) gak jelas nama blognya, mohon maaf pada penulis asli).

Bloody Mandor West Borneo

West of West Kalimantan or Borneo when it had experienced periods of darkness when the Japanese occupation through a series of bloody events that wipe out a generation of intellectuals, prominent figures and charismatic to ordinary people. Japanese occupation forces massacred in West Kalimantan on local feudal circles, scholars, ambtenar, politicians, community leaders, religious leaders, until the common people, from various ethnic, tribal or religious. Events that are recorded as the most dark and tragic history of western Kalimantan people leave memories and deep wounds for the families left behind because of their loved ones taken away by force in a manner that accurately depicts how the Japanese fascist invaders that time. Events that occurred in 1943-1944 known as the event because of its location right foreman foreman is located in the area which is now included in the district hedgehog. The actual number of victims was never revealed until now, but victim of these events is estimated as many as 21,037 people with a target of 50,000 jiiwa, based on the recognition Kiyotada Takahashi, a Japanese tourist who visited West Kalimantan 2-122 March 1977. He is a former officer Syuutizityo Minseibu who once lived in Jalan Zainuddin Pontianak Takahashi while visiting the company's work as President Director Marutaka House Kogyo Co. Ltd..At least there are 48 names that appeared Borneo Sinbun victims that day, complete with details of age, ethnicity, occupation or employment. They are Pattiasina JE, Sharif Muhammad Alkadri, Prince Duke, Prince Court, Ng Nyiap Soen, Lumban Pea, Dr. Rubini, Kei Kie Liang, Ng Nyiap Kan, Panangian Harahap, Noto Soedjono, FJ Loway Paath, Octavianus CW Lucas, Ong Kie Tjoe , Oeray Alioeddin, Gusti Saoenan, Mohammad Ibrahim Tsafioeddin, Sawon Wongso Atmodjo, Abdul Samad, Dr. Soenaryo Martowardoyo, M Yatim, Mas Soediyono Rd, Nasaruddin, Soedarmadi, Tamboenan, Thji Boen Khe, Nasroen Prince St., E Londok Kawengian, WFM Tewu, Wagimin bin Wonsosemito, Ng Loeng Khoi, Swa Teng Theng, Dr RM Ahmad Diponegoro, Dr Ismail, Ahmad Maidin, Amaliah Rubini (Rubini dr's wife), Nurlela Panangian Harahap (wife Panangian), Tengkoe Idris, Goesti Egypt, Sharif Saleh, Gustavo A Hamid, Ade M Arief, Goesti M twinkle, Goesti Djafar, Rd Abdulbahri Danoeperdana, M Taoefik, AFP Lantang, and Nalaprana Rd. (Source: Note Syafaruddin Usman MHD in Harian Equator). The names are only a fraction of the total victims who died tragically because of abducted from their homes and massacred by Japanese soldiers in the location that is now marked with a monument built reliefs that decorated to illustrate how the abduction until the massacre occurred. Number of victims and the cruelty unequaled in the future can be seen through the bones are scattered at the site, skulls head separated from his body to describe how their lives His life ended at the threshold of the samurai. Even so the number of victims who should be executed, at the site some time ago often found fragments samurai. Basically the Japanese occupation forces deliberately committed acts biadap in order to suppress and discourage and community resistance against the Japanese west Kalimantan. Arrest made in several stages, the initial occupation of Japan, wrote Iseki, the situation in the city of Pontianak and the community is very peaceful. There is no anti-Japanese movement. But in July 1943, uncovered conspiracy against Japan in Banjarmasin. His brain is BJ Haga, former Governor of the Netherlands in Borneo. The Japanese army did not give mercy. Haga and 800 people allegedly involved the movement was finished off by the Administrator Kaigun, Iwao Sasuga. Apparently, based on information from informants Japan, Banjarmasin groups that have established relationships with activists in Pontianak. Course information from Amir, an informant in this Tokkei, make the Japanese angry. According to the amir, Manager Asahikan a cinema in Pontianak Ahmad Maidin, instead has spread the word slander is troubling. For example, the city of Surabaya, was bombed and Japanese troops lost the war continues. The news was spread in the July-August 1943.At the end of January 1944 there was another arrest of phase II. Around 120 people were arrested, among other figures Singkawang. While the arrest phase III occurred in February 1944, upon the ambtnaar and intellectuals of his day. On June 28, 1944 that's when the creepy residents of Pontianak. At that time, so in his book Iseki, made quick trial of 48 characters. That day also, the pioneer of liberty was sentenced to death and shot straight at the time. Another prisoner, who numbered at least 1,000 people said Iseki, beheaded with a samurai without a trial. (Source: Note Syafaruddin Usman MHD in Harian Equator). These events reminded me of a big hole dug kampong where I grew up, as a child I often played at the site. According to the story of a parent, that hole has been dug in the days of Japan that we must have already guessed what the purpose of the excavation pit. But thankfully cruel intentions is not accomplished because of the Hiroshima nuclear bombing of Nagasaki, which is worth paying for the actions of brutal Japanese occupation that time. In hindsight, we should be grateful to the United States, try if they did not drop nuclear bombs on Japan, perhaps there will be more casualties and the Japanese intention to clear-cutting of Borneo generation that was twelve years old and above will be realized.How eerie and frightening situation when the incident occurred to us describing the various testimonies of victims who either escaped or from families of victims or witnesses and perpetrators of history.Tajima (Japan Kompetai Soldiers)"I take my rifle and bayonet to the tangent of shivering and with the guidance of the lieutenant swearing an almost hysterical. My way slowly to the Chinese man who stood up to face the fear on the side hole corpse, grave when he helped dig. In my heart I ask sorry to him, with eyes screwed and lieutenant swearing in my ear, I mnancapkan bayonet into the body of the man who became Tegan it. When I opened my eyes, I saw him fall slowly to the grave. Murderer criminal, so I call myself I "
Takahashi
 
"I remember and still have a record of the number of victims who were captured or killed en masse in around June 1944, ie 21 037 people. But I do not know with certainty whether all the prisoners were killed in the area foreman. However, the number of victims was never recorded in a document stored in a war museum in Japan, "said Takahashi Kiyotada.Lim Bak Djue or Djuanda Rimbawidjaja."Of the Chinese who were victims of Japanese, most of our family," he said. Unmitigated, 8 members of her extended family were massacred during the Japanese army.Sultan Abubakar SharifSince early April, the Japanese government in Pontianak hearing will issue a rebellion. The atmosphere became tense city of Pontianak. Apparently there is an exploit that situation to fish in murky waters, the Japanese suddenly Sultan Muhammad's family suspect that would be a brain Alkadrie rebellion.That day, thousands of Japanese army conducted operations lightning arrest people suspected. With every person who blindly regarded as having the intellect-especially-rounded scholars. Sultan Muhammad himself with the punggawanya "picked up" the Japanese army forced from his palace.In the presence of wives, children and grandchildren, courtier and some people, devout king who was chained up and his head covered with black cloth, before being taken away. A touching, before taken away Sultan Muhammad Alkadrie twirling prayer beads in his index finger while bertakbir.Magnifying the royal entourage and then brought before the Japanese headquarters on the other side of the Kapuas River (now the headquarters of the military region command). In that place one by one their heads cut off, then put into trucks and taken away some where. Luckily, seven months later, after Japan had adopted the feet - the body of Sultan Muhammad Alkadrie found in Krekot. The invention itself thanks to reports of a grave-digging a hole that had escaped from the massacre of Japanese soldiers.And it's amazing, though it was seven months were buried, when exhumed, the bodies of the righteous sultan was still intact as the person who just passed away. In fact, according to the testimony of the diggers, clothing and prayer beads still looks good. The bodies of Sultan Muhammad Alkadrie then buried back in the tomb of the sultan of Pontianak in Batulayang (Source: Blog I write so I have one) do not clear the name of his blog, apologize to the original author).