Sunday, November 8, 2015

Ketika aku Bicara Cinta

Kadang, aku bertanya pada diri sendiri, di usia ini..apakah aku masih pantas bicara cinta. Kehidupan cinta yang penuh angan dan romantismeku ku pikir telah berakhir setelah remaja. Kuliah, aku tak punya pacar, akupun mengerti..siapa yang mau pada gadis kurus dan berjerawat yang begitu taat beribadah, hehehehe. Saat awal-awal bekerja, sempat menjalin dua kali hubungan konyol dan bodoh dengan pria yang salah dan sama sekali tidak ada penyesalan untuk mengakhiri karena ku pikir masih punya banyak waktu untuk mengejar impian, menjelang tiga puluhan aku sering heran pada beberapa pria yang secara mendadak menyatakan ketertarikan untuk melamar meskipun aku tak kenal. Kemudian, akupun mengenal hubungan yang penuh dinamika di pertengahan 30, penuh haru biru, penuh putus sambung, penuh harapan dalam diriku bahwa dia pria yang tepat dan terakhir..meskipun sampai kinipun pria itu antara mencintaiku dan tidak...meskipun di tengah itu aku sempat juga menjalin hubungan konyol yang salah dan sedikit petualangan.
Tapi bukan aku, kalau menyerah untuk mengejar impian..tak peduli semua itu aku masih berharap bahwa kami akan kembali dan dia mengerti hanya aku satu-satunya yang tulus mencintai dia. Tapi akupun tak tahu, apa ini keputusan yang tepat menghabiskan waktu hanya fokus pada impian-impian yang terasa absurd. Dan kemudian, aku mulai seperti type wanita-wanita yang di tuliskan dalam banyak artikel, pemimpi, wanita yang berharap pada harapan palsu, tidak menggunakan nalar dan logika, wanita yang sudah berakhir kehidupan cintanya ketika mencintai pria yang salah, calon jomblo selamanya, entahlah..mungkin ada banyak lagi julukan untuk wanita sepertiku..tapi..apalah arti hidup, kalau kita menyerah sebelum mati..betul tidak? maaf, aku bukan penganut motto "No man no Cry.." tanpa pria pun kita tetap akan menangis bukan? jadi sekalian saja kita menangis untuk seseorang..wkwkwkwkw..

Untuk "B"
Post a Comment